Apasihitu

Pengertianya adalah blog berbentuk magazine yang di didalamnya berisi hal hal dan tips trik menarik seputar pengertian, astronomi, sains, cinta, arkeologi, inspirasi, motivasi,tutorial photoshop, tutorial blogger, dan masih banyak lagi yang menarik dan bermanfaat lainya.

Tampilkan postingan dengan label Penemuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penemuan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Oktober 2012

Dokter ini Berhasil Tumbuhkan Daun Telinga di Lengan Pasien

Dokter ini Berhasil Tumbuhkan Daun Telinga di Lengan Pasien
Sejak tahun 2010 telinga kiri Sherrie Walter harus diambil akibat kanker kulit. Tapi kini ia telah memiliki telinga baru yang dibuat dilengan dengan menggunakan tulang rawan dari rusuknya.

Awalnya Sherrie didiagnosis dengan basal cell carcinoma dan telah menyebar ke jaringan di sekitarnya sehingga telinga kirinya harus diangkat bersama dengan beberapa bagian tengkorak dan saluran telinga.

Sekitar 4 tahun yang lalu Sherrie tidak berpikir bahwa koreng atau luka di telinganya adalah kanker. Ia sempat diresepkan dengan antibiotik tapi tak kunjung sembuh hingga akhirnya 8 bulan kemudian ia menemui dokter kulit.

Dokter tersebut memeriksanya kurang dari 5 menit dan langsung mengatakan bahwa itu adalah kanker. Sherrie pun melakukan pengobatan agresif untuk menghapus 7 lapisan kulit dan saat itu telinganya masih utuh.

Namun pada Oktober 2010 Sherrie menemukan darah di dalam telinganya dan dokter mengatakan bahwa kanker tersebut telah menyebar ke saluran telinga kirinya. Dokter pun melakukan operasi selama 16 jam untuk menghapus saluran telinga, gendang telinga dan sebagian telinga kirinya serta beberapa kelenjar dan jaringan di sekitarnya.


Hingga akhirnya ia ditawari kesempatan untuk menerima prosedur inovatif yang sama sekali baru, yaitu mengambil tulang rawan dari tulang rusuknya kemudian akan ditempatkan di bawah kulit lengan selama berbulan-bulan untuk tumbuh.

"Saya merasa seperti percobaan dalam menjalani prosedur ini," ujar Sherrie (42 tahun) yang menjalani prosedur di Johns Hopkins Hospital, Maryland seperti dikutip dari Dailymail.

Tim ini dipimpin oleh Dr Patrick Byrne, seorang profesor bedah THT-kepala dan leher di Johns Hopkins University School of Medicine. Diketahui butuh waktu sekitar 4 bulan bagi organ baru ini untuk ditumbuhkan di bawah kulit lengan kirinya sebelum dipindahkan ke sisi kiri kepala pada bulan Maret 2012.

"Kami tanamkan telinga di dekat pergelangan tangan dan hanya membiarkannya disana sampai semua kulit bisa tumbuh menjadi telinga," ujar Dr Byrne.

Hingga akhirnya pada bulan Maret 2012 telinga baru ini ditempelkan ke sisi kiri kepalanya dan dokter mulai bekerja secara kosmetik sehingga nanti bentuk telinganya menyerupai telinga sebelah kanan.

"Menurut pendapat saya kini hanya masalah mengurangi pembengkakan dan menyembuhkan, setelah ia sembuh saya yakin dia akan memiliki telinga yang terlihat normal," ujar Dr Byrne.

Meski begitu, walaupun pemulihannya belum berakhir, tapi Sherrie menganggap dirinya beruntung dan berharap orang lain belajar dari kisahnya yaitu gunakan selalu tabir surya dan segera lakukan pemeriksaan agar tidak terlambat.


Sumber :
detik.com

Senin, 24 September 2012

Ditemukan, Senjata Tertua yang Pernah Ada

Ditemukan, Senjata Tertua yang Pernah Ada

tombak,fosilTemuan fosil tertua yang pernah ada. (University of Tübingen/Phys.org)
Arkeolog dari University of Tübingen, Jerman, berhasil menemukan delapan tombak berusia 300 ribu tahun. Menjadikannya sebagai senjata tertua yang pernah ada.
Tombak ini ditemukan dari situs zaman batu di Schöningen, Jerman. Diperkirakan pemiliknya adalah anggota dari spesies homo heidelbergensis --spesies yang kini sudah punah.
Dilansir Senin (17/9), tombak dan fosil binatang yang ditemukan di situs tersebut mengindikasikan tingginya kemampuan berburu manusia yang ada saat itu. Mereka mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Bisa menyelami pemikiran abstrak dan perencanaan yang cukup rumit.
Proyek penemuan tombak di situs tersebut dikepalai Nicholas Conard. Sedangkan penggalian diawasi Jordi Serangeli, keduanya dari Institute of Prehistory di University of Tubingen.
Mereka mengaplikasikan skil dari berbagai disiplin ilmu untuk bisa menentukan kehidupan manusia di Schöningen pada 300 ribu tahun lalu. Ditemukan pula fosil dari mamalia besar seperti gajah, badak, kuda, dan singa. Ditambah fosil amphibi, reptil, kerang, dan kumbang. Sayangnya di situs tersebut tak ditemukan fosil manusia. Inilah yang menyulitkan penelitian lebih lanjut.
Meski demikian, penggalian tetap dilakukan sepanjang tahun ini. Tiap harinya ditemukan fosil penting untuk didokumentasikan. Di antara penemuan penting adalah artefak batu, tulang, dan kayu.
Atas bervariasinya temuan, Schöningen bukan hanya menjadi titik referensi arkeologi. Tapi juga untuk penelitian ekologi dan iklim. Tahun 2013 mendatang akan dibuka museum Palaon di lokasi ini. Tujuannya untuk memberi informasi pada publik mengenai temuan apa saja di Schöningen.

Rabu, 05 September 2012

Katak Rawa "Kekar" Ditemukan di Riau

Katak Rawa "Kekar" Ditemukan di Riau

Masafumi Matsui/Amir Hamidy.
 Satu lagi jenis katak baru ditemukan di Indonesia, menandakan bahwa Indonesia kaya akan beragam jenis amfibi. Spesies yang ditemukan kali ini dinamai Hylarana rawa.

Penemuan spesies ini melalui proses panjang. Pada tahun 2007, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan beberapa pihak menginventarisasi biodiversitas Suaka Margasatwa Giam-Siak Kecil. Tujuannya, sebagai acuan pengajuan suaka margasatwa sebagai cagar biosfer.

Dalam proses inventarisasi, peneliti dan teknisi herpetologi LIPI, Ir Mumpuni dan Mulyadi, berhasil mengambil satu spesimen katak yang kemudian dideskripsikan sebagai Hylarana rawa ini.

Jumlah spesimen yang berhasil dikoleksi hanya satu. Spesimen itu kemudian dibawa ke Museum Zoologi Bogor. Identifikasi morfologi saat itu hanya berhasil mengidentifikasi hingga tingkat genus, yakniRana.

Rana sebelumnya adalah marga yang juga menaungi Hylarana. Karena perkembangan taksonomi, maka Rana sekarang terbagi menjadi beberapa marga baru, di mana Hylarana hanya salah satunya.

Identifikasi secara molekuler pada spesimen baru dilakukan Amir Hamidy dari Museum Zoologi Bogor bersama pembimbing S-3-nya di Kyoto University, Masafumi Matsui, pada tahun 2012.

"Dari hasil analisis molekuler dari mitokondria DNA, gen 16S rRNA, bisa diketahui bahwa MZB Amp 14656 (kode spesimen) merupakan jenis baru, dengan perbedaan jarak genetik yang cukup besar 13,9–15,7 persen dari jenis-jenis lain sekerabatnya," urai Amir.

Peneliti juga membandingkan spesimen dengan tiga jenis katak segenus lain, Hylarana baramica,Hylarana laterimaculata, dan Hylarana glandulosa. Ciri-ciri yang membedakan jenis-jenis tersebut diidentifikasi.

"Karena MZB Amp 14656 merupakan spesimen jantan, maka kami berhasil mengidentifikasi salah satu karakter seks sekunder, yaitu memiliki humeral gland (kelenjar di lengan atas) yang sangat besar dibandingkan dengan ukuran badannya," jelas Amir. Kelenjar tersebut membuat lengan katak terkesan kekar.

Selain karakteristik itu, dalam surat elektronik kepada Kompas.com, Senin (27/8/2012), Amir juga mengatakan bahwa Hylarana rawa memiliki selaput kaki yang minimal, tak seperti katak jenis lain.

Tentang nama "rawa" sendiri, Amir mengatakan, nama itu dipilih sesuai habitatnya di rawa. Menurutnya, tak banyak jenis katak yang bisa beradaptasi dan hidup di lingkungan rawa gambut yang asam.

Setelah deskripsi Hylarana rawa sebagai spesies baru, pencarian lagi spesies itu masih perlu dilakukan. Hingga saat ini, informasi biologi seperti populasi dan status konservasinya belum diketahui.

"Jangan sampai penemuan kali ini menjadi yang terakhir ditemukannya Hylarana rawa. Kekhawatiran ini cukup beralasan karena amfibi merupakan hewan yang sangat rentan dengan perubahan lingkungan, termasuk pemanasan global," ungkap Amir.

Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Current Herpetology edisi Juni 2012
.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Jejak Hutan Tropis Ditemukan di Antartika

Jejak Hutan Tropis Ditemukan di Antartika

ISTIMEWA/TIM 7 SUMMITS
Inilah puncak Vinson Massif (4.897) di Antartika.


Upaya penelitian dengan mengebor dasar laut Antartika membuahkan hasil yang tak terduga. Ilmuwan menemukan bahwa hutan hujan tropis terdapat di Antartika 52 juta tahun yang lalu.

Dalam studi tersebut, dengan jalan pengeboran di wilayah timur Antartika, ilmuwan menemukan fosil pollen milik tanaman tropis yang menutupi benua Antartika pada masa Eocene, sekitar 34 - 56 juta tahun yang lalu.

Kevin Welsh, peneliti asal Australia yang melakukan riset tahun 2010 mengungkapkan, analisis molekul yang sensitif temperatur yang dilakukan menunjukkan bahwa temperatur Antartika sangat hangat 52 juta tahun lalu, sekitar 20 derajat Celsius.

"Dulu ada hutan di daratan, tak akan mungkin ada es, saat itu akan sangat hangat," kata Welsh seperti dikutip AFP, Kamis (2/7/2012). 

"Ini cukup meyakinkan, sebab pastinya imajinasi kita tentang Antartika adalah lingkungan yang dingin dan penuh es," tambah Welsh.

Welsh menuturkan, level karbon dioksida (CO2) di atmosfer diperkirakan menjadi faktor pemicu adanya hutan hujan tropis di Antartika. Kadar CO2 saat itu diperkirakan mencapai 990 hingga beberapa ribu ppm (parts per million).

Sebagai perbandingan, CO2 saat ini diperkirakan sekitar 395 ppm. Prediksi paling ekstrim dari Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) menjelaskan bahwa es akan sangat surut di Antartika pada akhir abad ini.

Welsh yang merupakan pakar palaeoklimatologi menjelaskan, penemuan kali ini sangat penting untuk memahami dampak perubahan iklim, terutama menjelaskan seberapa banyak air yang disimpan di Antartika dalam bentuk es di permukaannya.

"Ini menunjukkan bahwa jika kita melewati periode dimana konsentrasi CO2 di atmosfer makin tinggi, sangat mungkin akan ada perubahan dramatis di area yang sangat penting dimana es eksis ini," papar Welsh.

"Kalau kita kehilangan banyak es di Antartika maka kemudian kita akan melihat perubahan dramatis pada ketinggian permukaan laut di seluruh planet ini," tambahnya.

Kehilangan es dan permukaan air laut naik akan menyebabkan banyak daratan hilang. Selain itu, Bumi juga kehilangan salah satu mekanisme pendinginan suhu lewat es. 

Es di Antartika bagian timur diperkirakan memiliki ketebalan hingga 3-4 km. Es ini mulai terbentuk sejak 34 juta tahun lalu. 

Hasil riset ini dipublikasikan di jurnal Nature, Kamis kemarin.

Sumber :AFP
Editor :Asep Candra

Paleoklimatologi merupakan ilmu mengenai perubahan iklim yang terjadi dalam seluruh rentang sejarah bumi.

Rabu, 11 Juli 2012

Penemuan 10 Spesies Unik yang Baru Diumumkan

Penemuan 10 Spesies Unik yang Baru Diumumkan


Bumi masih menyimpan banyak misteri. Masih banyak spesies dari dunia fauna dan flora yang baru diketahui eksistensinya. Institut Internasional Eksplorasi Spesies (IISE) pada 23 Mei silam mengumumkan penemuan beragam spesies baru. Apa sajakah?


1. Monyet hidung pesek



Monyet berhidung pesek ini merupakan spesies yang langka dan hanya ada sekitar 20.000 ekor di seluruh dunia. Sebanyak 4.000 dari mereka diam di wilayah pegunungan Cina. 

Untuk melindungi monyet dari genus Rhinopithecus ini, pemerintah di Cina mendirikan Cagar Alam Nasional Zhouzi. Nama Latin monyet berhidung pesek ini adalah Rhinopithecus roxellana. 

Asal usul nama Latin dari monyet ini diinspirasi oleh seorang selir berhidung pesek milik Sultan pada abad ke – 15. Monyet jenis ini memakan lumut rendah protein dan kulit kayu. Untuk melindungi diri dari pemangsanya, yaitu macan tutul, monyet berhidung pesek ini berkumpul di dalam kelompoknya yang banyak.


2. Ubur – ubur terikat Bonaire



Ubur – ubur kotak terikat Bonaire ini hidup di wilayah Kepulauan Karibia. Lebih tepatnya di sebuah perairan dekat dengan Pulau bernama Bonaire di Karibia. 

Ubur – ubur tersebut merupakan sebuah spesies yang indah namun mematikan. Hewan ini memiliki racun pada ekornya yang panjang dan berwarna – warni. Bentuknya kotak seperti layang – layang. 

Setelah dibandingkan dengan ubur – ubur lain yang sejenis, the Coalition of the Public Understanding of Science menyatakana bahwa ubur – ubur ini merupakan jenis spesies baru. Oleh sebab itu, seorang guru biologi kelautan bernama Lisa Peck memberi nama spesies baru ini Tamoya ohboya.


3. Sosis Pengelana Berkaki



Spesies baru di atas sebenarnya masih sekeluarga dengan kaki seribu. Namun bedanya, kaki seribu di atas merupakan kaki seribu terbesar di dunia sehingga bentuknya mirip seperti sosis. Kaki seribu ini memiliki panjang sekitar 16 cm dengan diameter sebesar 1,5 cm dan memiliki 56 buah cincin segmen tubuh. Setiap segmen tubuhnya memiliki 2 pasang kaki. Spesies baru ini diberi namaCrurifarcimen vagans dan ditemukan di Pegunungan Eastern Arc, Tanzania.


4. Tarantula Sazima



Tarantula Sazima adalah tarantula berwarna biru yang termasuk langka. Tarantula ini berasal dari Brazil. Brazil sendiri merupakan salah satu wilayah di bumi yang memiliki keanekaragaman hayati dan merupakan sumber utama penemuan spesies baru. Karena di Brazil sendiri terdapat hutan Amazon dan pegunungan Andes. 

Namun, tarantula ini hampir punah dan hidupnya terancam oleh karena banyaknya perdagangan hewan gelap untuk peliharaan. Nama Latin dari spesies ini adalah Pterinopelma sazimai.


5. Anggrek Malam yang Bercahaya

 


Sebuah anggrek yang menyala pada malam hari, jenis ini merupakan spesies baru yang pertama dari jenisnya. Hanya anggrek ini yang ditemukan dapat menyala pada malam hari. Menurut para ahli botani, penyebab mengapa anggrek ini dapat menyala di malam hari masih perlu diteliti lebih lanjut. Tanaman ini ditemukan oleh seorang peneliti Belanda dalam ekspedisinya ke Britania, sebuah pulau dekat Papua Nugini.


6. Kaktus berjalan




Spesies di atas disebut dengan kaktus berjalan. Organisme ini merupakan sebuah kelompok lopodians yang memiliki tubuh berlapis baja dan bentuknya seperti cacing. Organisme ini juga memiliki kaki berduri dan bersendi, yang merupakan hewan arthropoda. 

Kaktus berjalan ini bergenus Diania. Namun sayangnya, organisme ini ternyata sudah punah. Bukti keberadaan spesies ini ditemukan di serpihan bebatuan dari Cina.


7. Tawon Bom – Penyelam


 

Tawon parasit di atas ditemukan di wilayah Madrid, Spanyol dan sekitarnya. Spesies ini memiliki cara yang unik ketika meletakkan telur mereka. Pertama – tama, mereka berburu semut yang merupakan mangsanya. Mereka akan terbang sekitar 1 cm di atas tanah untuk menyerang semut tersebut. Ketika semut tersebut lengah, tawon tersebut akan menaruh telurnya dari belakang dalam waktu kurang dari 1/20 per detik. Kemudian tawon tersebut akan membungkus tubuh si semut beserta telur yang ditaruhnya. Semut yang dibungkus tersebut ditujukan untuk menjadi makanan bagi larva yang keluar dari telur tersebut.


8. Bunga Poppy Nepal Musim Gugur



Bunga poppy banyak terdapat di Nepal. Bunga poppy pada gambar di atas memiliki warna yang indah dan berseri. 

Bunga poppy ini tinggal di lingkungan yang ekstrim, yaitu pada ketinggian sekitar 3.352 meter hingga 4.200 meter di Nepal tengah. Jenis spesies ini sebenarnya bukan merupaka jenis spesies baru. 

Pada tahun 1962, seorang ahli botani Adam Stainton telah menemukannya di pegunungan Himalaya. Dan pada tahun 1994, seorang staff dari Departemen Sumber Daya Tanaman Tokyo juga telah menemukannya.


9. Cacing Setan


Cacing Setan ini dinamai Faust Mephistopheles, merupakan jenis nematoda yang dapat hidup di lingkungan yang ektrim dengan kondisi terparah. Spesies dari jenis Mephisto Halicephalobus ini dapat hidup di lingkungan yang memiliki tekanan atmosfer besar dengan temperatur 37 derajat Celcius. Para ilmuwan menemukan hewan ini setelah menggali sejauh 3,5 km di Afrika Selatan.


10. Jamur Spongebob Squarepants

Namanya mirip dengan tokoh kartun Spongebob Squarepants. Spesies di atas merupakan sebuah jamur yang berbentuk seperti busa spons. Jamur ini dapat diperas tubuhnya dan kembali ke semula layaknya sebuah busa spons. Jamur ini termasuk ke dalam genus Spongiforma dan memiliki bentuk yang unik. Kabarnya, aroma jamur ini seperti buah – buahan.




Para ilmuwan IISE ini bekerja sama dengan pihak Arizona State University dan sebuah komite taksonomis dari seluruh dunia untuk mengklasifikasikan penemuan spesies – spesies baru ini.








Sumber:
photos: junglemagazine.com
jadiberita








 
Back To Top